8 TELAGA MATA AIR DI DESA AIR SIALANG HILIR - ACEH SELATAN


Sumber Foto : yellsaints.com
Air ialah sumber kehidupan, mungkin kita bisa bertahan tanpa makan namun tidak tanpa air. Saat di daerah lain mengalami kekeringan, kesusahan untuk mencari air bersih, atau bahkan mengeluarkan rupiah untuk mendapatkannya, di Gampong (desa) ini terdapat banyak sumber mata air. Tidak peduli apakah disaat musim kemarau, ataupun dimusim hujan sumber mata air ini tidak pernah kering. Airnya bening seperti air dijual dalam kemasan. Sepeti ciri-ciri air sehat yaitu tidak berasa, tidak berbau dan tidak bewarna, 8 sumber mata air yang terdapat di Gampong Air Sialang Hilir ini termasuk katagori air yang layak dikonsumsi.

Air Sialang Hilir ialah sebuah Gampong yang terdapat di Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan, Aceh. Sesuai dengan namannya, gampong ini kaya dengan sumber mata air. Sungainya bermuara di kaki gunung Air Sialang yang kemudian membentang melewati 3 gampong yaitu Air Sialang Tengah, Air Sialang Hulu dan Air Sialang Hilir. Ketiga gampong itu terdapat sumber mata air yang dibuat membentuk kolam pemandian. Dari ketiga gampong tersebut, Gampong Air Sialang yang paling banyak kolam pemandiannya, biasa penduduk setempat yang berbahasa Aneuk Jamee menyebutnya dengan talago (telaga). Ada 8 telaga yang namanya mebuat kamu ngeri bahkan tertawa mendengarnya. Ini dia nama-nama talgo tersebut.

1. Talago Punjuik

Talago Punjuik terdapat di Gampong Nien. Tidak diketahui siapa yang membuat telaga ini, yang jelas orang-orang yang tinggal disekitarnya menyebut telaga ini dengan sebutan Talago Punjuik. Punjuik ialah sebutan untuk hantu pocong dalam bahasa Aneuk Jamee. Kemungkinan sebutan ini digunakan karena telaga ini berada dekat dengan tanah pemakaman warga Air Sialang. Menurut mitos masyarakat dahulu, sering terlihat hantu punjuik di tempat ini, namun sekarang tempatnya tidak seseram namanya.

2. Talago Lubuak Ek’ott

Masih berada di Kampuang Nien, Talago Lubuak Ek’ott terletak sekitar 20 m dari Talago Punjuik. Namanya memang aneh, ‘Ek’ott’. Sebutan ini dipakai karena disamping telaga ini terdapat pohon Bambu Air yang cukup besar. Dahulunya di pohon bambu tersebut sering mengeluarkan suara-suara aneh seperti ‘Ek’ott, ek’ott, ek’ott’, lebih seringnya menjelang tengah hari. Tidak ada yang mengetahui suara binatang apa, dan menurut mitos masyarakat setempat suara tersebut tidak boleh disapa, disebut atau dipertanyakan, karena bisa mengakibatkat demam panas atau biasa disebut tasapo/marampot (dalam kepercayaan suku Aneuk Jamee).

3. Talago Subarang Air

Jika Kamu pernah mengunjungi Air Sialang Hilir di tahun 80-90an, hal yang paling kamu ingat dan tidak akan pernah dilupakan ialah mandi di Talogo Subarang Air. Telaga inilah yang pertama kali ada sebelum telaga lainnya, dan telaga ini pula yang paling besar. Talaga ini dibuat oleh Chik Ma’kim, salah seorang yang pernah menjadi geuchik di Gampong Madat Samadua. Tapi sayangnya telaga ini sudah ditimbun dengan tumpukan sampah. Padahal airnya sangat jernih dan pernah menjadi primadona dan dikenal banyak orang. Subarang merupakan sebutan dari bahasa Aneuk Jamee untuk mengatakan Seberang. Dikarenakan saat menuju ke telaga ini harus menyeberangi air sialang, maka telaga ini disebut dengan Telago Subarang Air.

Sekarang telaga ini mulai digali kembali, untuk mempertahankan aset alam yang sudah lama terbentuk. Mungkin saat ini di Gampong Air Sialang Hilir, memamang mempunyai banyak sumber mata air, tapi siapa menjamin 50 atau 100 tahun ke depan mata air ini masih ada. Ditengah laju kepadatan penduduk, maka banyak warga yang membutuhkan lahan sebagai tempat membangun rumah, jadi jika telaga-telaga ini tidak dirawat, satu demi satu telaga ini ditimbun. Oleh karenanya untuk menjaga warisan mata air untuk anak cucu kita kelak, perlu dijaga dan dilestarikan aset yang sudah di sediakan alam ini.

4. Talago Nek Maricat

Talago Nek Maricat terletak berseberangan dengan Talago Subarang Air. Telaga ini milik seorang warga Kampung Subarang Air yang bernama Nek Maricat. Berbeda dengan telaga lainnya yang bisa digunakan oleh siapa saja, Telaga Nek Maricat hanya digunakan oleh anggota keluarganya. Mudahnya menemukan sumber mata air di gampong ini membuat setiap orang ingin memiliki telaga sendiri. Nek Maricat sendiri dikenal sebagai dukun yang bisa menyembuhkan penyakit merampot, dengan menggunakan anak batang pisang dan kemenyan, beliau bisa mengetahui penyakit seseorang dan menyebuhkannya dengan menggunakan ramuan berupa dedaunan yang berada disekitar tempat merampot.

5. Talago Mengkudu

Telaga ini sebanjar dengan Talago Nek Maricat dan hanya dipisahkan oleh jalan setapak yang bejarak sekitar 20 m. Belum diketahui siapa yang membuat telaga ini, tapi kebanyakan orang menyebutnya Talago Mengkudu. Penamaan ini besar kemungkinan karena banyak terdapat batang mengkudu yang mengelilingi telaga tersebut.

6. Talago Surau

Talago Surau terletak di samping surau kaum ibu perbatasan antara Kampung Nasah dan Kampung Gadang. Telaga ini khusus untuk pemandian kaum ibu, dan biasanya sangat ramai dikunjungi saat pagi dan sore hari. Telaga ini tidak pernah sunyi dari aktivitas ibu-ibu, menyuci dan mandi. Sebutan untuk Talago Surau karena terletak berdampingan dengan Surau.

7. Talago Tampang

Talago Tampang berada di Kampung Nasah. Dulunya di samping telaga ini terdapat pohon yang sangat besar dengan diemeter kurang lebih 80 m dan panjang batang 200 m. Pohon ini disebut dengan ‘Batang Tampang’. Pohon ini sudah ada sejak ratusan tahun silam dan menjadi tempat sarangnya elang. Menurut mitos masyarakat setempat, Batang Tampang dihunyi oleh makhluk ghaib. Pohon ini sudah lama ingin ditumbangkan oleh masyarakat sekitar, namun tidak bisa karena banyak kejadian aneh saat prosesi penebangan tersebut. Kejadian tersebut seperti hilangnya parang saat mau ditebang, batangnya tidak ditembus oleh parang dan akhirnya pada tahun 2004, setelah melakukan proses ritual seprti baca yasin dan kenduri, pohon ini akhirnya dapat juga ditebang dengan mengerahkan sekitar 100-an orang massa. Telaga inilah sebagai penggalan dari Batang Tampang, dan disebutlah dengan Talago Tampang.

8. Talago Menasah

Telaga ini dikhususkan untuk kaum lelaki, dikarenakan telaga ini berada di samping Menasah. Sama halnya dengan Talago Surau, Talago Menasah ramai dikunjungi pada pagi dan sore hari. Hampir semua laki-laki yang ada di kampung ini, suka mandi dan berenang di tempat ini. Telaga ini yang paling besar dan paling dalam dibandingkan pemandian lainnya.

Itulah nama-nama telaga yang terdapat di gampong Air Sialang Hilir, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan. Jika dirawat dan diindahkan tentunya sumber mata air ini bisa menjadi tempat yang kaya dengan sumber mata air, bahkan bisa dibuat sebagai objek wisata sumber mata air. Sungguh indah bumi Aceh ini, karena tuhan telah memberikannya dengan penuh warna

----------------------------------------
Yelli Sustarina
Penulis Asal dari Desa Air Sialang Hilir - Kec. Samadua - Kab. Aceh Selatan - Prov. Aceh
Mobile : 0853 7033 4010 - Email : yellsaints.paris@gmail.com
Posting Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.