Pesona Masjid Raya Baiturrahman di Waktu Senja

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh di Waktu Senja

Senja itu tim #kitaberjalan memutuskan untuk shalat maghrib di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Setelah sekian lama tidak kemari karena renovasi masjid, akhirnya masjid kebanggaan masyarakat Aceh ini kembali banyak dikunjungi jamaah.

Suara azan mulai berkumandan seantero Banda Aceh, memanggil kaum muslim untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat Islam. Orang-orang mulai menuju sumber suara, pertanda bahwa jamaah shalat maghrib akan berlangsung.

Aku yang kebetulan sedang mendapat cuti shalat (haid), memutuskan untuk menunggu di luar masjid dan menikmati keindahan awan senja. Ternyata bukan aku saja yang berada di luar, banyak perempuan yang sedang cuti shalat sepertiku, menunggu di luar masjid. Mungkin menunggu suami, atau temannya yang sedang shalat kali ya? 

Nah, aku juga lagi menunggu partner #kitaberjalan yang sedang shalat, masak aku jalan sendiri terus? Nanti diculik orang lagi, hehehe.

Yang sedang cuti shalat tunggu di halaman masjid aja ya!

Kesempatan itu aku manfaatkan untuk memotret aktivitas di senja itu. Masjid yang berdiri gagah, berusia lebih dari 100 tahun ini sungguh memesona. Apalagi dengan wajah barunya yang dilengkapi dengan payung besar di halaman masjid.

Di setiap tonggak payung dilselipkan lampu hias cantik dan warnanya bergantian setiap lima detik sekali. Lantai keramik yang begitu mengkilat, dan bersih membuat kita hati-hati saat berjalan.

Lampu-lampunya sungguh memesona

Sangking bersihnya ada yang shalat di luar masjid, di bawah payung-payung besar tersebut lantaran di dalam masjid sudah penuh dengan jamaah.

Di sisi lain juga ada orang-orang duduk lesehan membentuk lingkaran. Setiap sudut dipenuhi oleh kelompok-kelompok kecil, yang pada umumnya anggota keluarga. Mereka bukan hanya penduduk Banda Aceh saja, tapi dari luar kabupaten bahkan ada yang dari luar propinsi, dan luar negri.

Selepas shalat maghrib, kelompok-kelompok kecil itu semakin bertambah. Kebahagiaan, kecerian, dan tawa tampak dari raut wajah mereka. Mungkin karena mereka bisa shalat di Masjid kebanggaan orang Aceh ini dan menikmati moment indah selepas maghrib. 

Semakin malam, orang-orang pun kian berdatangan. Halaman masjid pun dipenuhi oleh wisatawan yang ingin mengabadikan fotonya bersama masjid peninggalan belanda itu.

Aktivitas di malam hari seusai shalat maghrib dan menunggu waktu isya

Malam itu rupanya malam minggu, #kitaberjalan mengeksplor tiap sudut bangunan masjid yang menjadi icon Wisata Halal Aceh, dengan tagline Cahaya Aceh untuk promosi nasional dan The Light of Aceh untuk dunia internasional.

Tagline tersebut terinspirasi dari sebuah kubah masjid raya yang mempunyai filosofi Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin

Idenya dari sini, akhirnya dituangkan dalam bentuk design grafis
Akhirnya menjadi ini.

Rahmatan yang dimaknai sebagi rahmat, keberkahan, dan cahaya. Sedangkan lil alamin bermakna alam semesta. Jadi, rahmatan lil alamin dapat diartikan sebagai cahaya bagi dunia.

Adanya Masjid Raya Baiturrahman ini merupakan cahaya bagi orang Aceh untuk memancarkan sinar keislaman di dunia. Inilah alasan mengapa masjid ini mejadi kebanggaan di Negri Serambi Mekkah ini.

Bahkan ketika masjid ini dibakar oleh kolonial Belanda menimbulkan rasa marah masyarakat Aceh dan wanita bernama Cut Nyak Dhien, sampai berteriak-teriak seperti orang gila karena sangking marahnya.

"Wahai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh! Lihatlah! Saksikan sendiri dengan matamu! Masjid kita dibakarnya! Mereka menentang Allah Subhanahuwataala! Tempatmu beribadah dibinasakannya! Nama Allah dicemarkannya! Camkanlah itu! Janganlah kita melupakan budi si kafir yang serupa itu! Masih adakah orang Aceh yang suka mengampuni dosa si kafir yang serupa itu? Masih adakah orang Aceh yang suka menjadi budak kafir Belanda?” (Szekely Lulofs, 1951:59).

Begitulah ungkap perempuan yang menjadi pahlawan Aceh tersebut. Tepatnya pada tanggal 10 April, 1873 masjid itu dibakar oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal Van Swieten, menimbulkan kemarahan yang luar biasa bagi masyarakat Aceh.

Akhirnya pada tahun 1877, Belanda membangun kembali untuk menarik perhatian orang Aceh dan meredam kemarahannya. Begitulah sejarah singkat dari masjid tersebut.

Sekarang masjid ini telah menjadi objek wisata religi, tidak hanya kaya dengan sejarah namun keindahan arsitektur masjid ini menjadi daya tarik banyak orang. 

Tempat wisata religi di Aceh

Apalagi sekarang dengan adanya payung elektrik yang diresmikan pada Februari lalu oleh Gubernur Aceh saat itu Zaini Abdullah, membuat pesona Aceh semakin tampak di mata dunia.

#kitaberjalan yakin, saat kamu berkunjung ke Aceh pasti sasaran utamanya ke masjid ini. 

Akhirnya #kitaberjalan malam mingguan di masjid yang sudah ada pada masa Kesultanan Aceh Darussalam ini, sambil merefleksi kilas sejarah dan rencana #kitaberjalan selanjutnya.

Lagi mikirin destinasi #kitaberjalan berikutnya

Tunggu cerita #kitaberjalan selanjutnya ya, karena dengan menjelajahi dunia kita akan mendapatkan kedamaian di hati.
Posting Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.